The Day Before I Know
1 message Received.
Begitulah tulisan yang tertera di layar ponselku. Hari ini masih pagi dan ini hari Minggu. Hari yang terasa nyaman untuk bermalas-malasan. Hri yang damai untuk sekedar menonton televisi, pergi ke pusat kota atau kembali ke alam mimpi. Tapi semua khayalan itu sirna seketika saat aku membaca satu pesan yang pertama kali kubuka ketika aku terbangun pagi ini. Dari korlip.
Kubaca kedua kalinya pesan singkat dari kordinator liputanku itu. Hal yang terlintas dibenakku adalah jam berapa? Apa itu Rakornas? Rasanya aku ingin kembali tidur dan berpura-pura tak membaca pesan itu. Tapi yang aku lakukan adalah membalas pesan itu dan menanyakan waktu liputannya. Bodoh!. Kalau tak mau ikut liputan, kenapa kau tanya? Pikirku.
Jawabannya singkat, “Stand by at 12.00 pm.” Balas korlip. Detik itu pula aku panic. Ya Tuhan.. rumahku tidak sedekat jari kelingking dan jari manis!. Rumahku di kota hujan sedangkan kantor-tempat-aku-magang berada di pusat kota metropolitan. Waktu menunjukkan pukul 09.15. cukuplah untuk mengejar kereta?, aku pikir cukup. Bukankah kau sudah berpengalaman? Ejekku menghibur diri dalam hati.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, aku menerka-nerka topik liputan ini. Well, saat ini aku hanya seorang junior reporter dan lebih dering disebut ‘anak magang’. Jika ditelaah lagi, apabila kordinator liputan atau korlip sudah menghubungi reporter, itu artinya dialah yang bertugas. Kali ini dia yang menghubungiku. Ah.. sial. Kenapa harus aku? Batinku. Aku menghampiri korlip di mejanya sesampainya aku di ruang redaksi. Saat itu ruang redaksi sepi. Hari Minggu, hari dimana kebanyakan orang menghabiskan waktunya ntuk beristirahat. Saat itu korlipku, wanita. Korlip tercantik yang kukenal dan aku sering memanggilnya, Bu Desi.
“Siang, Bu…” sapaku.
“Siang, Jasmine. Udah lihat plotingan belum? Kamu nanti ke Rakornas Partai Demokrat, yaa.. Nanti kamu jalan sama Kang Adi. Ini.. “ jelasnya seraya memberiku ID pers.
Aku mengambilnya dan pamit untuk mencari sang Kameramen. Ini pertama kalinya aku mendapat ID Pers ke acara besar yang dihadiri oleh orang nomor satu negeri ini. Bapak Presiden yang terhormat. Saat itu juga aku kembali panic. Oh… mengapa disaat liputan seperti ini tidak ada reporter senior yang mendampingiku? Apalagi aku sama sekali tidak mengetahui latar belakang acara ini. Lalu aku harus bertanya apa disana nanti?
Tak lama setelah peralatan liputan siap, Kang Adi dan aku berangkat ke Sentul International Convention Center. Kang Adi, dia merupakan salah satu cameramen senior yang kukenal. Ini pertama kalinya juga aku liputan bersamanya tanpa reporter senior.
“Jasmine, kamu udah tahu tentang Rakornas kan? Lihat di internet?” tanyanya sambil memasukkan kaset kedalam kamera.
“ini saya lagi browsing, Kang. Nanti nanya apa ya, Kang kira-kira?” tanyaku balik sambil membaca artikel di ponsel. Pertanyaan bodoh seorang reporter adalah bertanya tentang apa yang harus ditanyakan. Rasanya aku ingin tenggelam ketika menyadarinya.
“Ya terserah kamu, kamu kan reporternya” jawabnya.
Sudah kuduga itulah jawabannya. Tapi tidaklah dia berpikir bahwa aku hanya seorang mahasiswa magang yang sedang belajar dan membutuhkan bimbimngan? Setidaknya berikan aku sedikit saja petunjuk. What should I do, then? Aku meringis sambil terus membaca Rapat Kordinasi Nasional Partai Demokrat.
Aku makin meringis ketika korlip cantikku kembali mengirim satu pesan singkat yang mengarahkan aku untuk bertanya kepada seorang satuan Sutan Batoeghana yang notabene adalah Wakil Pimpinan Demokrat. Beliau memintaku untuk menanyakan pergantian bendahara umum Partai Demokrat tersebut. Arahan berikutnya adalah mewawancarai Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati, dengan topik yang berbeda pula. Apa semua itu harus? Harus! Karena tiap 30 menit korlip menanyakan, “Gimana, Jasmine? Dapet wawancaranya? Kabari saya ya”.
Seukuran remaja lain mungkin juga aka bertanya-tanya siapa Andi Nurpati? Anas Urbaningrum ? Mafia Panitia Pemilu? Lalu mereka akan lebih senang menjawab ketika ditanya tentang film apa yang sedang diputar sekarang? Aku bahkan saat ini benar-benar bodoh karena lupa bagaimana wajah Sang Narasumber. Saat ini juga aku membuka mobile browserku dan aku ketik SUTAN BATOEGHANA!
Dalam situasi seperti ini, ingin rasanya aku menumpahkan kekesalan pada sang cameramen. Aku benci terbebani seperti ini tanpa ia tahu kekesalan bahwa aku butuh bantuannya. Tapi mengapa ia terus membiarkan aku menanggung tugas ini sendirian. Aku tahu bahwa inilah tugas seorang reporter. Tapi ini berita besar. Mengapa mereka malah mempercayakan pada seorang anak magang?
“Kang, tadi Bu Desi bilang kita wawancara Sutan sama Andi Nurpatinya aja.“ ujarku memecah keheningan di ruang pers SICC.
“Ya udah. Ayoo deh, pertanyaannya udah ada kan? Ini..” ajaknya dan memberikan microphone-nya padaku.
Sutan Batoeghana pun muncul. Kami berlari menghampirinya bersama wartawan lain. Mengejar keeksklusifan, para wartawan lain berusaha menyodorkan microphone-nya sedepan mungkin. Pertanyaan pun bertubi-tubi diarahkan padanya. Kang Adi memberi isyarat. Aku pasrah. Pertanyaan pun meluncur dari bibirku. Aku malu untuk melontarkan pertanyaan lagi, tapi ingatanku akan tugas ini memaksaku.
Aku kesal!, ya benar-benar kesal walaupun wawancara tersebut sudah tersimpan dalam pita-pita kaset tersebut. Aku takut pertanyaanku tidak bisa menjawab permintaan korlipku. Saat ini pun aku dibiarkan menulis naskah seorang diri, sungguh tidak lucu!
“Harus gitu, Jas kalau mau jadi reporter!”ujarnya mengagetkanku. Aku berbalik untuk menghadapinya dan menghentikkan ketikanku.
“Saya bukannya nggak mau bantu kamu. Enam bulan lalu saya kena penyakit stroke ringan. Saya cuti kerja karena nggak bisa mengingat dengan baik. Bahkan saya waktu siuman belum bisa ingat betul keluarga saya. Stroke ini nyerang ingatan saya..”jelasnya.
Ya Tuhan… Bodoh sekali aku sudah berburuk sangka padanya. Pria berusia paruh baya itu ternyata amatlah baik. Ia bukan mengacuhkanku, tetapi membiarkanku berpikir akan tanggung jawab yang telah diberikan kepadaku. Membuat aku belajar bagaimana harusnya aku bersikap mengambil keputusan. Ia mengajakku untuk terus belajar. Seandainya aku tahu kondisinya sebelum ini, mungkin aku tidak akan menekuk muka selama ini.
“Reporter yang baik it uterus belajar, Jasmine. Tahu apa yang harus dilakukan dan bisa mengambil keputusan. Kalau nggak bisa diliput ya cari tempat lain. Kalau nggak bisa diwawancarai, ya cari cara lain. Karena kita terus belajar…”
Lalu disudut kedai kopi itu kami bercerita. Menjelajahi pengalaman sebagai seorang wartawan senior yang masih berkutat di lapangan. Membiarkannya mengisahkan memori-memorinya dan membawaku berpetalang dengan kisahnya.
-END-