Selasa, 13 Desember 2011

That's Photography


  Friendship or Love?


Closer To The Eye


Flower



Walked


Happy All Day Long

Jumat, 28 Oktober 2011

whats happen w/ ur nose??


Sing and Wishing You were Here!
Kenapa harus ada pertemuan kalau nantinya akan ada perpisahan?
Kenapa harus datang kalau nantinya akan pergi?
Kenapa harus ada kata “Hai” kalau nantinya akan ada ucapan “selamat tinggal” ?
Pertanyaan itu Cuma ada satu jawabannya TAKDIR.
Allah telah mengatur semuanya, karena bumi dan seisinya ini hanya milik-Nya.

Sesuatu yang pergi, bukan berarti menghilang dari ingatan maupun dari hidup kita.
Tapi karena sesuatu itu pergi, kita dapat merasakan bahwa sesuatu itu berharga.

I’ve felt missing something.
I’ve tried to forget it.
But I can’t.
Someone was gone?
A pet was lost?
Or something missing else?

Kenapa dari tadi gue ngomong kayak gini? Puitis bangeeeet.
Dari post gue sebelumnya “The Missing Piece” itu nyeritain NINO kucing peliharaan gue yang ilang.
Tapi disini beda, rasanya kehilangan close friend itu sedih banget!! SEDIH!
Waktu gue kelas sepuluh, gue punya chairmate yang idungnya bikin gue sesek napas tiap hari, yak MANCUNG! Gue punya panggilan sayang ke dia NOSEY, gila nice kan?! Haha. Dia itu suka banget sama JUSTIN BIEBER maklum lah abege jaman sekarang Gahoel abiezzzz hehe. Dia itu super baik, nyebelin, care and share banget. Dia tempat gue buang sampah unek-unek kayak uya kuya. Dia seneng, gue ikut seneng, gue sedih dia seneng-seneng aja hahahaha. Gue deket banget sama dia, sampe ke kantin bareng, ke wc bareng, pulang sekolah bareng, kemana-mana bareng. kedekatan kita itu ibarat permen karet yang nempel dibawah kolong meja, lengket! haha.  Sampai pada saat kenaikan kelas XI gue harus terima kalau doi bakal pindah ke JAWA TENGAH! Jawa meeeen jauh. Dia bilang mau pindah ke Purwadadi, rasanya makin nyelekit aja pas gue tau di kelas XI gue sekelas lagi sama dia!! *nangis darah*.
Gue harus gimana?, akhirnya gue udh ikhlasin, gue bantuin anter dia buat ngurusin surat-surat pindahannya, gue lunasin utang-utang gue haha, dia juga sama. Gue pandangin idung dia, ternyata idung nya tetep bikin gue sesek napas haha.
Pas hari terakhir, gue sama arina, reci, nene mengadakan perpisahan kecil. Jujur gue ga sedih pada saat itu, tapi pas hari-hari berikutnya di suatu malam gue nangis…
Nangis….
Nangisssssss………….
(Sengaja gue ulang biar lebih dramatis).
Gue baru tahu rasanya kehilangan saat orang itu ga ada. Damn, miss her banget!!!.
Gue sama dia Cuma bisa berhubungan via socnetwork atau telfon. Kadang gue yang nelfon, kadang dia. Sekalinya nelfon pasti cerita banyaaak banget.
Waktu hari jum’at tanggal 14 october 2011, gue sama Reci, Dinda, Ayu pergi ke rumah Arina. Kita seneng-seneng bareng dan keinget si IDUNG, akhirnya kami semua sms dia buat nyuruh dia nelfon, dan dia nelfon juga. Dia nanyain kabar satu-satu. Awww speechless juga dia hahaha. Dia minta dinyanyiin lagu, berhubung kami semua adalah choir hehe jadi kami turutin request dari dia. Dia minta dinyanyiin lagu That Should Be Me nya Justin bieber abang gue.

Gue, Justin, Arina, Reci, Dinda, Ayu nyanyi sambil liat lyricnya hehe.. maklum ada yang engga hafal.

That Should be me
Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading 'bout this other guy
Do you do what you did when you did with me
Does he love you the way I can
Did you forget all the plans that you made with me
Cause baby I didn't

That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
'Till you believe
That that should be me
That should be me

You said you needed a little time from my mistakes
It's funny how you used that time to have me replaced
Did you think that I wouldn't see you out at the movies
What you doin' to me
You're taking him where we used to go
Now if you're trying to break my heart
It's working cause you know

That that should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
This is so wrong I can't go on
'Till you believe
That should be me

I need to know should I fight for love
Or disarm
It's getting harder to shield
This pain is my heart

Ooh Ooh

That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
'Till you believe
That that should be me

Holding your hand
That should be me
The one making you laugh (oh baby oh)
That should be me

That should be me
Giving you flowers
That should be me
Talking for hours
That should be me (that should be me)
That should be me

That should be me
Never should've let you go
I never should've let you go
That should be me
I never shoulda let you go

Setelah lagu beres, Idung a.k.a NANDA (http://twitter.com/#!/NandaMNF) tepuk tangan dan kedengeran suaranya yang lagi nangis, terharu. Semuanya terharu, Justin bieber juga terharu. NOSEY, WE MISSING YOU!

Jumat, 30 September 2011

Puisi


Pewarna dalam hidup

Kecil, manis dan lugu
Itulah dirimu
Sesosok anak laki-laki polos
Sang pelukis kecilku

Piawaimu menggoreskan kuas diatas kanvas
Kau tuangkan berbagai perasaan
Lukisanmu menceritakan kisah kehidupan
Kehidupanmu atau ceritaku

Kau lunakkan kuas
Seperti kau melunakkan sisi hidupku
Kau tebalkan warna
Seperti kau menebalkan keceriaanku
Kau beri sapuan halus
Seperti kau menyapu kesedihanku

Kau pelukis kecilku
Memberi warna baru dalam duniaku
Memberi senyuman disetiap lekukan arah kuasmu


Kamis, 29 September 2011

The Missing Piece

He lost..
I don't know where he are now
before, you love to play with me. you're always waiting for me on the porch.. but, now I can't see ya 
R.I.P NINO

who's the peoples known my pet?
I scared, what the food he ate today? "I don't know"
sleep where is he tonight? "I don't know"
is he okay? "I don't know" 
I hope you can take care baby! I missing you :(
nino lagi kesilauan! wearing sunglasses dong!! haha

so imut banget sih -__-

gue heran, nino ada ketururan tionghoa juga?

nino kan cowo terawat! maskeran dong bo!

gue gatau dia lagi ngapain -_-

udah cape2 gue beresin kasur, tapi dia malah enak2an kayak gitu!


ini rak buku dijadiin tempat ngegalau! 
NINO MAJIKANMU DISINI KANGEEN!!
kamu dimana? dengan siapa? semalam berbuat apa? *eh
Nino... kamu tau ga.. kamu itu "sesuatu" yang hilang dari hidup aku? (sinetron abis)
you are the missing piece.. I need to find you..
to fix the puzzle I gotta FIND YOU....


hehehe

Jumat, 23 September 2011

Short Story By Group 4 (Part II)

Arti Persahabatan
              Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Beni, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan Ban Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).

-End-

Puisi Kelompok 4 (part II)


Seperti Merpatiku

Melirik pagi yang cerah
Terkesiap dengan berbungkus paket dan surat
Melangkah keras melawan bisingan kota
Mengantar berpucuk-pucuk surat

Langkahnya seperti burung merpati
Meski tak dapat terbang di langit bebas
Tapi ia berusaha menyampaikan amanah
Untuk menderuh sapa orang banyak

Hujan, panas, dan terik
Tak akan menjadi penghalang
Tetap akan menjalani kerasnya hidup
Walau cacian, maki dan halauan menanti

Panggilnya Pak Pos
Banyak orang menantikannya
Dan bertanya “mana suratku?”




Puisi Kelompok 4

Menantimu Dalam Sajak Ini

Cerita merangkaikan kita dari akar hingga daun                                                                                                                                                               
Tak dapat kusempurnakan rangkaian itu
Walau kebersamaan dan sebatang cokelat yang kau beri
Walau sebuah delusi yang kau tinggalkan

Hatiku menantimu didalam bait ini
Meskipun mengingatmu seperti menertawakan mimpi buruk
Meskipun mencemaskanmu seperti melamun dalam keramaian
Tapi itu yang kurasakan

Perasaan yang menyergapiku selama ini
Hatiku menantimu dalam bait ini
Walaupun menantimu seperti menatap bintang di malam gelap
Tapi aku akan tetap menunggu

Menunggu, walau aku tahu kau tidak akan datang


Luluk Akasahutami

Short Story By Group 4


The Day Before I Know

                1 message Received.
            Begitulah tulisan yang tertera di layar ponselku. Hari ini masih pagi dan ini hari Minggu. Hari yang terasa nyaman untuk bermalas-malasan. Hri yang damai untuk sekedar menonton televisi, pergi ke pusat kota atau kembali ke alam mimpi. Tapi semua khayalan itu sirna seketika saat aku membaca satu pesan yang pertama kali kubuka ketika aku terbangun pagi ini. Dari korlip.

Text Box: Jasmine, 
Hari ini kamu liputan Rakornas PD di SICC yaa.. Jangan lupa pakaian formal! No jeans yaa! Trm kasih =)
                                                                                
            Kubaca kedua kalinya pesan singkat dari kordinator liputanku itu. Hal yang terlintas dibenakku adalah jam berapa? Apa itu Rakornas? Rasanya aku ingin kembali tidur dan berpura-pura tak membaca pesan itu. Tapi yang aku lakukan adalah membalas pesan itu dan menanyakan waktu liputannya. Bodoh!. Kalau tak mau ikut liputan, kenapa kau tanya? Pikirku.
            Jawabannya singkat, “Stand by at 12.00 pm.” Balas korlip. Detik itu pula aku panic. Ya Tuhan.. rumahku tidak sedekat jari kelingking dan jari manis!. Rumahku di kota hujan sedangkan kantor-tempat-aku-magang berada di pusat kota metropolitan. Waktu menunjukkan pukul 09.15.  cukuplah untuk mengejar kereta?, aku pikir cukup. Bukankah kau sudah berpengalaman? Ejekku menghibur diri dalam hati.
            Di sepanjang perjalanan menuju kantor, aku menerka-nerka topik liputan ini. Well, saat ini aku hanya seorang junior reporter dan lebih dering disebut ‘anak magang’. Jika ditelaah lagi, apabila kordinator liputan atau korlip sudah menghubungi reporter, itu artinya dialah yang bertugas. Kali ini dia yang menghubungiku. Ah.. sial. Kenapa harus aku? Batinku.
            Aku menghampiri korlip di mejanya sesampainya aku di ruang redaksi. Saat itu ruang redaksi sepi. Hari Minggu, hari dimana kebanyakan orang menghabiskan waktunya ntuk beristirahat. Saat itu korlipku, wanita. Korlip tercantik yang kukenal dan aku sering memanggilnya, Bu Desi.
            “Siang, Bu…” sapaku.
            “Siang, Jasmine. Udah lihat plotingan belum? Kamu nanti ke Rakornas Partai Demokrat, yaa.. Nanti kamu jalan sama Kang Adi. Ini.. “ jelasnya seraya memberiku ID pers.
            Aku mengambilnya dan pamit untuk mencari sang Kameramen. Ini pertama kalinya aku mendapat ID Pers ke acara besar yang dihadiri oleh orang nomor satu negeri ini. Bapak Presiden yang terhormat. Saat itu juga aku kembali panic. Oh… mengapa disaat liputan seperti ini tidak ada reporter senior yang mendampingiku? Apalagi aku sama sekali tidak mengetahui latar belakang acara ini. Lalu aku harus bertanya apa disana nanti?
            Tak lama setelah peralatan liputan siap, Kang Adi dan aku berangkat ke Sentul International Convention Center. Kang Adi, dia merupakan salah satu cameramen senior yang kukenal. Ini pertama kalinya juga aku liputan bersamanya tanpa reporter senior.
            “Jasmine, kamu udah tahu tentang Rakornas kan? Lihat di internet?” tanyanya sambil memasukkan kaset kedalam kamera.
            “ini saya lagi browsing, Kang. Nanti nanya apa ya, Kang kira-kira?” tanyaku balik sambil membaca artikel di ponsel. Pertanyaan bodoh seorang reporter adalah bertanya tentang apa yang harus ditanyakan. Rasanya aku ingin tenggelam ketika menyadarinya.
            “Ya terserah kamu, kamu kan reporternya” jawabnya.
            Sudah kuduga itulah jawabannya. Tapi tidaklah dia berpikir bahwa aku hanya seorang mahasiswa magang yang sedang belajar dan membutuhkan bimbimngan? Setidaknya berikan aku sedikit saja petunjuk. What should I do, then? Aku meringis sambil terus membaca Rapat Kordinasi Nasional Partai Demokrat.
            Aku makin meringis ketika korlip cantikku kembali mengirim satu pesan singkat yang mengarahkan aku untuk bertanya kepada seorang satuan Sutan Batoeghana yang notabene adalah Wakil Pimpinan Demokrat. Beliau memintaku untuk menanyakan pergantian bendahara umum Partai Demokrat tersebut. Arahan berikutnya adalah mewawancarai Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati, dengan topik yang berbeda pula. Apa semua itu harus? Harus! Karena tiap 30 menit korlip menanyakan, “Gimana, Jasmine? Dapet wawancaranya? Kabari saya ya”.
            Seukuran remaja lain mungkin juga aka bertanya-tanya siapa Andi Nurpati? Anas Urbaningrum ? Mafia Panitia Pemilu? Lalu mereka akan lebih senang menjawab ketika ditanya tentang film apa yang sedang diputar sekarang? Aku bahkan saat ini benar-benar bodoh karena lupa bagaimana wajah Sang Narasumber. Saat ini juga aku membuka mobile browserku dan aku ketik SUTAN BATOEGHANA!
            Dalam situasi seperti ini, ingin rasanya aku menumpahkan kekesalan pada sang cameramen. Aku benci terbebani seperti ini tanpa ia tahu kekesalan bahwa aku butuh bantuannya. Tapi mengapa ia terus membiarkan aku menanggung tugas ini sendirian. Aku tahu bahwa inilah tugas seorang reporter. Tapi ini berita besar. Mengapa mereka malah mempercayakan pada seorang anak magang?
            “Kang, tadi Bu Desi bilang kita wawancara Sutan sama Andi Nurpatinya aja.“ ujarku memecah keheningan di ruang pers SICC.
            “Ya udah. Ayoo deh, pertanyaannya udah ada kan? Ini..” ajaknya dan memberikan microphone-nya padaku.
            Sutan Batoeghana pun muncul. Kami berlari menghampirinya bersama wartawan lain. Mengejar keeksklusifan, para wartawan lain berusaha menyodorkan microphone-nya sedepan mungkin. Pertanyaan pun bertubi-tubi diarahkan padanya. Kang Adi memberi isyarat. Aku pasrah. Pertanyaan pun meluncur dari bibirku. Aku malu untuk melontarkan pertanyaan lagi, tapi ingatanku akan tugas ini memaksaku.
            Aku kesal!, ya benar-benar kesal walaupun wawancara tersebut sudah tersimpan dalam pita-pita kaset tersebut. Aku takut pertanyaanku tidak bisa menjawab permintaan korlipku. Saat ini pun aku dibiarkan menulis naskah seorang diri, sungguh tidak lucu!
            “Harus gitu, Jas kalau mau jadi reporter!”ujarnya mengagetkanku. Aku berbalik untuk menghadapinya dan menghentikkan ketikanku.
            “Saya bukannya nggak mau bantu kamu. Enam bulan lalu saya kena penyakit stroke ringan. Saya cuti kerja karena nggak bisa mengingat dengan baik. Bahkan saya waktu siuman belum bisa ingat betul keluarga saya. Stroke ini nyerang ingatan saya..”jelasnya.
            Ya Tuhan… Bodoh sekali aku sudah berburuk sangka padanya. Pria berusia paruh baya itu ternyata amatlah baik. Ia bukan mengacuhkanku, tetapi membiarkanku berpikir akan tanggung jawab yang telah diberikan kepadaku. Membuat aku belajar bagaimana harusnya aku bersikap mengambil keputusan. Ia mengajakku untuk terus belajar. Seandainya aku tahu kondisinya sebelum ini, mungkin aku tidak akan menekuk muka selama ini.
            “Reporter yang baik it uterus belajar, Jasmine. Tahu apa yang harus dilakukan dan bisa mengambil keputusan. Kalau nggak bisa diliput ya cari tempat lain. Kalau nggak bisa diwawancarai, ya cari cara lain. Karena kita terus belajar…”
            Lalu disudut kedai kopi itu kami bercerita. Menjelajahi pengalaman sebagai seorang wartawan senior yang masih berkutat di lapangan. Membiarkannya mengisahkan memori-memorinya dan membawaku berpetalang dengan kisahnya.


-END-

Minggu, 18 September 2011

my short journey..